Lukman Bomber Makassar Tolak Barzanji, ini Penjelasan PBNU

  • Whatsapp
dua terduga pelaku bom makassar sebelum meledakkan diri | istimewa

JAKARTA – Semasa hidupnya, bomber Makassar kerap kali bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitanya. Semisal barzanji yang telah menjadi kebiasaan masyarakat di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal ini diungkap sebelumnya oleh  Ketua RT di Kecamatan Bontoala, Makassar, tempat Lukman tinggal, Nuraeni, Lukman kerap menegur jika orang tuanya mengikuti acara barzanji. Tapi, menurutnya, hanya menegur, tidak sampai memarahinya.

Bacaan Lainnya

Lalu apa itu barzanji?  Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi mengatakan barzanji merupakan bacaan sejarah tentang hidup Nabi Muhammad SAW. Masduki mengatakan barzanji merupakan tradisi dan biasa dibaca ketika maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad.

“Barzanji itu bacaan tentang sejarah hidup Nabi. Jadi kayak orang baca sejarah. Jadi kayak misalnya kita membaca buku sejarah tentang Kerajaan Sriwijaya, lalu di situ ada syair-syair Jawa, masa gitu saja nggak boleh,” kata Masduki kepada wartawan, Rabu (31/3/2021) dikutip detikcom.

BACA JUGA: Plt Gubernur Sulsel Izinkan Salat Tarawih di Masjid

BACA JUGA: Bantu Bomber Gereja Katedral, 4 Warga Makassar Ditangkap Densus 88

BACA JUGA: Isi Surat Bomber Makassar: Minta Ibunya Hindari Riba

“Itu kan memang sejak dulu tidak ada larangan itu, bahkan ditradisikan. Zaman Nabi hidup, ada sejumlah penyair, salah satunya Hasan bin Tsabit, itu memang selalu membikin puisi-puisi yang memuji Nabi dan Nabi senang, bahkan oleh Nabi dikasih hadiah. Jadi itu tradisi sudah lama. Lalu setelah Nabi wafat, orang-orang mencintai Nabi, maka kemudian ditulislah karya-karya dalam bentuk sastra. Ada model puitis, ada juga yang prosa, apalagi kalau bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi pasti dibaca,” lanjutnya.

Masduki mengatakan aliran Islam Wahabi-Salafi memang melarang pembacaan barzanji. Namun dia tidak mengetahui lebih rinci alasannya.

“(Di kita) nggak ada (larangan), itu memang ada ada di kelompok Islam keras, kelompok yang Wahabi-Salafi itu kan memang melarang. Nggak tahu juga kenapa. Kalau kita namanya umat Islam mencintai Nabi, wajar saja, mencintai lalu membaca sejarahnya kan biasa itu,” ujarnya.

Sebelumnya, menurut pengakuan Ketua RT di Kecamatan Bontoala, Makassar, tempat Lukman tinggal, Nuraeni, Lukman kerap menegur jika orang tuanya mengikuti acara barzanji. Tapi, menurutnya, hanya menegur, tidak sampai memarahinya.

“Memang dia itu, hal-hal yang begitu (barzanji dan pinjam uang ke bank) dia tegur. Jadi dia tidak marahi, cuma dia melarang. Dia cuma tegur, maksudnya dia kasih dengar saja ibunya, bilang tidak bisa begitu,” kata Nuraeni saat ditemui ke kediamannya di Bontoala, Rabu (31/3/2021).

Menurut Nuraeni, Lukman melarang ibunya meminjam uang ke bank karena dinilai riba atau hal yang dilarang dalam agama. “Dia dilarang ambil uang bank, karena riba,” ujarnya.

Selain itu, Nuraeni mengungkapkan Lukman tidak memakan makanan daging hewan, apalagi jika ada acara barzanji yang dilakukan warga.

“Dia itu juga nggak mau makan yang berdarah, ayam, sapi. Terus kita ada namanya baca-baca (barzanji) toh, dia tidak mau makan itu kalau ada acara begitu,” terangnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *