Dilarang Mudik Lokal: Makassar- Sungguminasa -Takalar – Maros

  • Whatsapp
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito

JAKARTA – Mudik lokal di kawasan aglomerasi resmi dilarang. Seperti Makassar ke Sungguminasa ke Takalar ke Maros. Pemerintah pun menjelaskan secara rinci soal pelarangan mudik itu.

“Mohon dipahami bahwa SE Satgas no 13/2021 adalah tentang Peniadaan Mudik. Jadi yang dilarang adalah mudik,” kata juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, kepada wartawan, Kamis (6/5/2021).

Bacaan Lainnya

“Mengapa Mudik dilarang? Karena mudik itu digunakan untuk silaturahmi secara fisik. Pertemuan fisik antar keluarga, handai taulan tidak mungkin tidak bersentuhan tubuh melalui salaman, salim, cipika cipiki, atau berpelukan. Virus COVID ini menular melalui sentuhan, tidak menjalankan 3M secara disiplin dan konsisten,” sambungnya.

BACA JUGA: Keluh Kesah Sopir Bus, Penghasilan ‘Sekarat’ Karena Adanya Larangan Mudik

Wiku menerangkan kebijakan ini sebagai langkah pemerintah untuk melindungi masyarakat agar tak tertular COVID-19. Wiku menyebut saat ini ada dua bahaya yang mengancam.

“Pertama adalah sirkulasi varian virus mutasi dari luar negeri yang berpotensi lebih berbahaya. Kedua, masyarakat ingin bersilaturahmi fisik dengan mudik. Kami tidak ingin terjadi seperti keadaan di India,” kata Wiku.

Lantas, dalam larangan mudik di kawasan aglomerasi ini ada penyekatan? Wiku menyebut kebijakan ini juga ingin menyadarkan masyarakat akan bahaya COVID-19. Sehingga kesadaran masyarakat juga diperlukan untuk menekan angka kasus positif.

BACA JUGA: Wali Kota Makassar Larang Salat Ied di Lapangan Karebosi

“Kesadaran masyarakat dan tanggung jawabnya itu harus didorong. Akan berat tugas bangsa ini kalau hanya pemerintah yang memikul upaya mengendalikan COVID ini. Harus dengan dan dari masyarakat juga,” ujarnya.

Wiku menekankan pemerintah telah menetapkan larangan mudik 6-17 Mei 2021. Sehingga tidak ada lagi istilah mudik yang dibolehkan.

“Di dalam Permenhub No. 13/2021 juga tidak ada pernyataan bahwa ada pengecualian mudik bagi wilayah aglomerasi. Hanya di dalam pasal 3 ayat (5) dinyatakan bahwa pengoperasian dan penggunaan moda transportasi darat di dalam wilayah aglomerasi tetap berjalan untuk kepentingan mendesak dan nonmudik dengan memperhatikan pembatasan jumlah operasional, sehingga mobilitas di dalam wilayah aglomerasi tetap diperbolehkan untuk kepentingan nonmudik,” tuturnya.

“Masyarakat dalam wilayah aglomerasi tetap dapat bermobilisasi untuk kepentingan mendesak dan nonmudik,” tegas Wiku.

Kawasan aglomerasi di Indonesia antara lain:

  1. Makassar, Sungguminasa, Takalar dan Maros
  2. Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo
  3. Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan
  4. Bandung Raya
  5. Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi
  6. Semarang, Kendal, Ungaran dan Purwodadi
  7. Yogyakarta Raya
  8. Solo Raya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *