IDI: Tatap Muka Boleh Jika Guru dan Siswa Telah di Vaksin

  • Whatsapp

MAKASSAR, SULSEL – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar meminta pembukaan pembelajaran tatap muka harus dipertimbangkan secara matang.

Ketua IDI Kota Makassar, Dr. dr. Siswanto Wahab, Sp.KK(K) menegaskan, tanpa kajian pihaknya tidak akan menyetujui kegiatan pembelajaran tatap muka digelar baik secara terbatas atau tidak.

Bacaan Lainnya

“Siapa yang mau bertanggung jawab jika anak-anak kena Covid-19 apalagi sampai meninggal karena Covid. Idealnya guru dan peserta didik harus selesai divaksin baru boleh dikaji soal pembukaan tatap muka langsung,” ujar Siswanto melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (20/3/2021).

Siswanto menjelaskan, rangkaian proses interaksi di sekolah sangat berpotensi besar menimbulkan penularan terhadap peserta didik mulai dari anak keluar sampai pulang ke rumah.

“Logikanya orang dewasa saja kepatuhan terhadap protap kesehatan masih jauh dari harapan, apalagi peserta didik yang masih ingin bermain bercanda bersama teman. Kita harus peka kepada semua ini,” jelasnya.

Siswanto menyarankan agar pemerintah fokus pada penurunan angka penularan Covid-19 dengan Vaksinasi dan memasifkan 3T (testing ,tracing dan treatment), sehingga positive rate bisa turun. Namun faktanya, masih dikisaran 17-19 persen di Indonesia. Artinya 10 orang dilakukan testing swab/PCR akan ada 2 orang positif, standar WHO hanya 5 persen. Selain itu, angka ccovid-19 di Sulawesi Selatan masih masuk 5-7 tertinggi di Indonesia dan Kota Mkassar sebagai epicentrum.

“Seluruh warga sekolah termasuk guru, peserta didik dan staf sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan Covid-19 dipastikan sudah di vaksin. Idealnya untuk Sulsel, 1200-1300 setiap hari pemeriksaan swab/PCR diluar pemeriksaan penderita positif Covid-19,” ujarnya.

“Setelah vaksin persoalan belum selesai sampai disitu, sebab kita masuk kepada pendidikan disiplin hidup bersih sehat, penerapan protokol kesehatan 3M secara ketat baik memakai masker, menjaga jarak dengan menghindari kerumunan, mencuci tangan dari rumah hingga ke sekolah, termasuk mempersiapkan kebutuhan penunjang kesehatan anak seperti masker, bekal makanan dan air minum, pembersih tangan, hingga rencana transportasi harus steril dengan memastikan aman dari penularan Covid-19,” tambahnya.

Siswanto mengurai ada tiga poin penting untuk perhatikan masa depan anak yakni hak anak hidup, hak anak sehat dan hak anak mendapatkan pendidikan.

“Dengan guru di vaksin dan peserta didik tidak di vaksin, pertanda covid-19 takut sama anak-anak? tentu tidak, sebab dengan varian baru B117 semua golongan usia tidak luput dari Covid-19,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *