Amir Sumaila, Perantau Asal Sulsel, Pemilik 2 Masjid di New York

  • Whatsapp

NEW YORK – 4 September 2021, di sela-sela acara resepsi pernikahan adik Muhammad Khadafi Bakrie-Flouriza Nabila Yosh di Baldwin, New York, saya menyempatkan diri mewawancarai salah satu tokoh perantau asal Sulawesi Selatan yang sudah puluhan tahun bermukim, sudah menjadi warga negara (citizen) dan kini masih aktif sebagai pegawai negeri kota New York, H. Amir Sumaila.

Amir mengaku lahir di Makassar, 5 Juli 1950, memiliki tiga anak, dan masuk daratan Amerika, Kalifornia pada Maret 1985. Setahun kemudian berpindah masuk ke New York hingga hari ini.

“Saya ke Amerika dikirim oleh perusahaan tempat kerja saya, ekspedisi LTH. Setahun kemudian, saya memilih pindah dan menetap di kota New York, mulai dengan usaha sendiri di bidang properti, building, dan apartemen, kemudian saya daftar dan bekerja sebagai pegawai kota di bidang pertanaman,” kata Amir Sumaila.

Dari juru bangunan, Amir menjelma menjadi lender (orang yang menyewakan) rumah dan apartemennya ke orang lain, termasuk ke penduduk asli, orang Amerika dan Meksiko.

“Saya punya gedung bangunan, disewa oleh orang Meksiko, dijadikan restoran,” tambah Amir.

“Saya lahir di Makassar, ibu saya berasal dari Jeneponto dan Bapak saya berasal dari Toli-toli, Sulawesi Tengah, dan istri saya bernama Hartati Sumaila, asal Makassar juga,” sambung Amir.

Amir mengaku mengenal KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) sejak tahun 1999, dan pernah dipilih dan menjabat Ketua Badan Pengurus Luar Negeri (BPLN) KKSS New York, 2006-2015.

Dilanjutkan oleh menantunya, Hamzah Laupe setahun, dan sejak tahun 2017, Ketua KKSS dijabat oleh Bapak Syaiful Hamid, asal Luwu, yang juga sudah puluhan tahun di New York, terang Amir.

“Ada 20 Kepala Keluarga dan 60-an warga KKSS di New York. Kami sering kumpul dan saling membantu dalam suka-duka, termasuk menghadiri acara pernikahan seperti hari ini,” sambung Amir.

Ketika ditanya, apa kendala bagi perantau asal Sulawesi Selatan, Amir menjawab, “minimal dua hambatan: faktor bahasa Inggris, dan legalitas atau visa kunjungan. Idealnya mereka datang dengan visa pelajar atau pekerja profesional yang mendapat jaminan dari perusahaannya, agar mereka hidup nyaman, legal, dan fokus belajar atau bekerja,” pungkasnya.

Satu hal yang menarik dikenang dan itu bisa dibilang jejak kesuksesan dari kerja keras Bapak Amir Sumaila adalah karena ia telah memiliki tiga rumah di New York dan mengelola tiga masjid, dua masjid di New York dan satu masjid di Makassar, Jalan Ballaparang Nomor 27, Rappocini. Ketiganya bernama Masjid Nurul Amir Mukmin.

Dilaporkan: M. Saleh Mude, di New York

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *