Momen Paskah, Sejumlah Elemen Aksi di Depan Gereja Katedral Makassar

  • Whatsapp
Aksi keprihatinan di depan Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR – Sejumlah organisasi masyararakat, Minggu (4/4/2021) menggelar aksi keprihatinan di Depan Gereja Katedral Makassar. Aksi ini bertepatan dengan perayaan Paskah umat Kristiani.

Aksi ini akan dilakukan dalam bentuk penyematan pita hitam dan pemberian bunga kepada Pimpinan Gereja dan umat Katolik di Gereja Katedral pada jam 8.30, yang datang beribadah PASKAH. Aksi ini sebagai bentuk pernyataan dukacita mendalam dan keprihatinan atas peristiwa bom bunuh diri beberapa waktu lalu.

 

Menurut Koordinator Aksi Therry Alghifary (Kita Bhinneka Tunggal Ika), Syaiful Alim (ICJ Makassar) dalam rilis mengatakan, selain pembagian pita di depan Gereja Katedral Makassar, aksi lanjutan akan dilakukan di Depan Monumen Mandala dimana akan digelar Doa Bersama Lintas Agama.

 

“Kami melakukan pembagian bunga untuk mengajak berbagai elemen masyarakat untuk ikut menebar cinta kasih dan memelihara perdamaian. Aksi ini juga akan diisi dengan berbagai puisi yang mengungkapkan dukacita dan keprihatinan,” tukas Therry.

 

Menurutnya, berbagai lembaga dan individu di Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Aksi Bersatu yang mencakup beberapa organisasi masyarakat sipil, kepemudaan, perempuan dan keagamaan, mengutuk keras atas bom bunuh diri dan menyerang umat dan rumah ibadah agama. Aliansi Bersatu menegaskan bahwa: “Tidak ada agama mana pun yang mengajarkan kekerasan dan menghancurkan kemanusiaan.”

 

Peristiwa Bom Bunuh Diri terjadi pada hari Minggu tanggal 28 Maret 2021 di depan Gereja Katedral Makassar dan Penyerangan Mabes Polri pada hari Rabu tanggal 31 Maret 2021 , maka Aksi Bersatu menganalisa dan menyimpulkan bahwa fanatisme, radikalisme dan intoleransi yang disebabkan oleh paham keagamaan yang sempit, paham ektrimisme kekerasan, dan kepentingan politik telah menyasar dan merasuki generasi muda yang menjadi potensi terjerumus dalam terorisme dan menjadi teroris.

 

Aksi teroris ini membangun pemahaman keliru dan stigma kepada perempuan berhijab dan bercadar yang juga berpotensi mendapatkan perlakukan kekerasan dan diskriminasi dari masyarakat lainnya sebagai tindakan reaktif merespon dan meyikapi peristiwa-peristiwa terorisme.

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *